Text
Sintesis Kitosan Tersulfonasi Dan Uji kemampuan Antibakteri Sebagai Bahan Aktif Pembungkus Makanan
Penggunaan pembungkus pangan bertujuan untuk melindungi makanan dari
bahaya mikroba yang menyebabkan penurunan kualitas. Pembungkus makanan
yang beredar di pasaran berasal dari polimer sintetik seperti plastik memberikan
dampak negatif terhadap lingkungan dan berpotensi karsinogen. Salah satu
senyawa yang dapat digunakan sebagai pembungkus makanan dan memiliki sifat
antibakteri adalah kitosan. Sifat kitosan memiliki beberapa kelemahan seperti
kurang larut dalam air akan membatasi aktivitas kitosan sebagai antibakteri. Perlu
dilakukannya modifikasi pada kitosan untuk mengubah struktur molekulnya agar
dapat meningkatkan aktivitas antibakterinya. Solusi yang ditawarkan adalah
memodifikasi kitosan dengan gugus sulfonat sehingga terbentuk kitosan
tersulfonasi yang mudah larut dalam pelarut air dan lebih efektif kemampuan
sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan mensintesis kitosan tersulfonasi pada
variasi suhu dan untuk menentukan suhu optimal sintesis kitosan tersulfonasi
sebagai solusi agen aktif antibakteri pembungkus makanan.
Penelitian ini diawali dengan dilakukannya karakterisasi kitosan dengan
menentukan derajat deasetilasi menggunakan spektrofotometer inframerah dan
menentukan berat molekul kitosan dengan menggunakan viscometer ubbelohde.
Sintesis kitosan tersulfonasi dilakukan dengan mereaksikan kitosan dengan 1,3
propana sulton pada suhu 250C, 400C, 600C, dan 800C selama 6 jam. Tahap akhir
adalah pembuatan film pembungkus makanan dengan bahan dasar kitosan
tersulfonasi, gelatin, dan gliserol. Film pembungkus makanan diujikan sudut
kontak, anti bakteri, total plate count, kuat tarik elongasi, dan biodegradable.
Kitosan yang digunakan mempunyai derajat deasetilasi sebesar 59,173%
dan berat molekul 299.991,3 g/mol. Sintesis kitosan tersulfonasi menghasilkan
padatan putih kekuningan dengan rendemen pada suhu 250C, 400C, dan 600C
berturut turut sebesar 71,73% (b/b), 61,24% (b/b), dan 61,46% (b/b). Pada kitosan
tersulfonasi suhu 800C tidak terbentuk produk. Derajat substitusi yang dihasilkan
pada kitosan tersulfonasi suhu 250C, 400C, dan 600C berturut- turut 26%, 31%, dan
33%. Kitosan tersulfonasi selanjutnya dipreparasi menjadi film dengan gliserol dan
gelatin. Film kitosan tersulfonasi diuji dengan sudut kontak. Hasil sudut kontak
senyawa yang paling hidrofob adalah SCS 60 (kitosan tersulfonasi 600C) sebesar
90,120. Aktivitas antibakteri film terhadap bakteri S. aureus terbesar pada SCS 60
(diameter zona hambat sebesar 10 mm) dan terhadap E.coli (diameter zona hambat
sebesar 7 mm). Pengujian total plate count diujikan pada ikan yang tanpa dibungkus
film, ikan yang dibungkus film kitosan dan film SCS 60 dengan hasil didapatkan
hasil berturut-turut sebesar 3.105 CFU; 3,6.103 CFU; dan 3.103 CFU. Hasil kuat
tarik dan elongasi juga senada menyatakan, semakin meningkatnya suhu semakin
banyaknya rantai ikatan kitosan yang mengikat sulfonat. Hasil biodegradable
didapatkan film kitosan lebih cepat terurai dengan waktu 8 hari dibanding film SCS
60 membutuhkan waktu 10 hari yang menandakan film kitosan lebih hidrofil dari
film SCS 60. Hasil menunjukkan kitosan tersulfonasi suhu 600C memiliki
kemampuan terbaik dibandingkan sintesis kitosan tersulfonasi suhu lain, sehingga
dapat diaplikasikan sebagai film pembungkus makanan.
Kata kunci: kitosan, kitosan tersulfonasi, film, antibakteri
| 2147C2023 | 2147 C 2023 | Perpustakaan FSM Undip | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain