Text
Enkapsulasi Vitamin C pada Liposom Kelapa untuk Meningkatkan Produksi Benih Kepiting Bakau (Scylla serrata) serta Studi Interaksi dan Dinamika Molekular
Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan komoditas akuakultur yang
pertumbuhan larvanya dapat ditunjang dengan pemberian pakan alami rotifer dan
nutrisi fungsional. Beberapa nutrisi fungsional dalam pakan komoditas akuakultur
yang penting adalah fosfolipida (PL), kolesterol, Vitamin C. Pemberian vitamin C
pada larva S. serrata bermanfaat untuk pertumbuhan, respon imun, respon terhadap
stres dan molting. Namun, salah satu sifat yang kurang menguntungkan dari vitamin
C adalah mudahnya teroksidasi dalam kondisi lingkungan. Enkapsulasi vitamin C
dalam liposom merupakan metode yang tepat untuk menjaga stabilitas vitamin C
selama pemberian pakan ke larva S. serrata. Diketahui fosfolipida kelapa cukup
efektif apabila digunakan untuk mengenkapsulasi zat aktif. Penelitian ini telah
dilakukan untuk mendapatkan metode isolasi crude fosfolipida kelapa yang lebih
efisien, metode produksi liposom kelapa yang mengenkapsulasi vitamin C dalam
skala besar dan efisien, mengetahui pengaruh vitamin C dalam liposom kelapa
terhadap pertumbuhan larva kepiting bakau (Scylla serrata), dan mengetahui
interaksi yang terjadi pada liposom kelapa-vitamin C yang dipelajari melalui
molecular docking dan dinamika molekular.
Penelitian ini dilakukan melalui 4 tahap. Pertama, isolasi crude fosfolipida
dari buah kelapa melalui ekstraksi ultrasonikasi dan ekstraksi partisi. Kedua,
enkapsulasi vitamin C dengan konsentrasi 500, 1000, 2500, 5000, 10000 mg/L
dalam liposom kelapa dan liposom kedelai sebagai pembanding, serta dilakukan
analisis efisiensi enkapsulasi, profil release, ukuran partikel, dan potensial zeta.
Ketiga, pemberian pakan liposom yang mengenkapsulasi vitamin C ke larva
kepiting S. Serrata. Keempat, perhitungan interaksi fosfatidilkolin, kolesterol, dan
vitamin C yang merupakan senyawa penyusun liposom dengan molecular docking
dan simulasi dinamika molekular.
Hasil yang didapatkan dari isolasi crude fosfolipida kelapa sebanyak 11,51
gram (0,111% b/b). Nilai efisiensi enkapsulasi vitamin C dalam liposom kedelai
adalah 50-90% sedangkan liposom kelapa adalah 55-75%. Nilai profile release
vitamin C dalam liposom kedelai dan kelapa setiap hari tidak lebih dari 30%.
Selama penyimpanan 10 hari, ukuran liposom mengalami peningkatan, dan nilai
potensial zeta yang berkisar -0,4 sampai 0,3 mv menunjukkan liposom mudah untuk
beraggregasi. Pemberian pakan liposom untuk larva S. serrata memberikan
pengaruh terhadap kecepatan perubahan stadia larva. Perubahan stadia dari zoea
menjadi megalopa terjadi pada hari ke-9 pemeliharaan larva untuk liposom
konsentrasi vitamin C 2500 dan 5000 mg/L. Umumnya perubahan stadia larva
kepiting dari zoea menjadi megalopa terjadi pada umur 10 – 15 hari pada skala
produksi. Survival rate larva kepiting untuk pemberian liposom-vitamin C dengan
konsentrasi minimal 2500 mg/L dapat mencapai minimal 9,33 ± 8,08 %. Interaksi
antara fosfatidilkolin (C12:0), kolesterol, dan vitamin C melalui ikatan hidrogen
dan ikatan hidrofobik tergolong ikatan sedang menuju lemah. Adanya ikatan yang
bersifat sedang menuju lemah ini memungkinkan untuk terjadinya profile release
vitamin C dari liposom. Kestabilan kompleks reseptor dan ligan yang tidak berbeda
jauh menunjukkan liposom stabil dan efisien untuk digunakan sebagai enkapsultor
vitamin C.
Kata kunci: enkapsulasi, liposom, vitamin C, Sylla serrata, survival rate
| 2125C2023 | 2125 C 2023 | Perpustakaan FSM Undip | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain